Churn kerap kali terdengar di dalam bisnis yang secara konsep umumnya bermakna pada menurunnya jumlah pelanggan yang berhubungan dengan bisnis dalam periode waktu tertentu.
Konsep ini menjadi krusial dalam mempertahankan nilai bisnis. Adanya penurunan ini bisnis dapat mengidentifikasi kemungkinan masalah yang menjadi penyebab pelanggan memutuskan untuk pergi.
Seringkali bisnis lupa dengan pelanggan lama dan mementingkan proses akuisisi pelanggan baru. Padahal, faktanya, pelanggan setia akan cenderung memberikan dampak ekonomis pada bisnis.
Untuk itu, pemahaman mengenai churn perlu dikupas tuntas agar bisnis tidak salah langkah ketika menentukan rencana strategi yang sesuai. Pelajari selengkapnya melalui artikel 3Dolphins ini.
Customer churn adalah jumlah pelanggan lama yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja samanya dengan bisnis. Istilah ini juga dikenal dengan atrisi pelanggan. Apa Itu Churn?
Metrik bisnis ini penting dalam meninjau sebaik apa bisnis berjalan. Karena dari nilai churn yang tinggi, bisnis dapat diidentifikasi gagal dalam menciptakan kepuasan. Berdasarkan metrik ini saja, revenue dapat dipertaruhkan.
Customer churn adalah simbol “kesetiaan” yang dapat membuktikan bahwa bisnis dapat menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Alasan pelanggan seringkali memutuskan untuk pindah haluan bukan karena adanya harga yang lebih miring, melainkan dapat disebabkan dari cara bisnis menangani kebutuhan mereka.
Mempertahankan pelanggan dinilai lebih murah dibandingkan menarik pelanggan baru. Oleh sebab itu, perhatian terhadap persentase churn tidak bisa diabaikan demi melihat jumlah akuisisi pelanggan baru.
Pembahasan berikutnya akan memperinci cara menghitung customer churn. Jangan sampai terlewat!
Churn bukan hanya bisa didefinisikan, lebih jauh konsep ini pun dapat dihitung. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang mungkin menjadi penyebab adanya churn. Cara Menghitung Churn Rate
Bisnis tidak boleh hanya menghitung keuntungan dari jumlah pelanggan yang berhasil diraih. Keharusan mengidentifikasi jumlah churn sama pentingnya untuk mengidentifikasi isu dan merencanakan langkah lanjutan. Berikut beberapa rumusnya.
Bisnis dapat mengkalkulasi jumlah customer churn rate dengan membagi jumlah total pelanggan yang berhenti dalam periode tertentu dari total pelanggan yang berhasil diperoleh. Jumlah ini nantinya dapat dikalikan dengan 100 dari periode waktu tertentu. Churn Rate
Churn rate = Pelanggan Hilang/Total Pelanggan dalam Kurun Waktu Tertentu) x 100
Churn rate dapat dihitung dalam kurun waktu mingguan, bulanan, atau tahunan tergantung dengan tujuan dan fokus bisnis. Misalnya, menghitung churn rate secara bulanan cocok untuk perusahaan SaaS.
Churn rate memiliki persentase beragam bergantung pada tipe bisnis. Berdasarkan Recurly, rata-rata churn rate berkisar antara 3–4 persen. Namun, untuk perusahaan yang bergerak di bidang tertentu, nilainya mungkin lebih tinggi. Monthly Recurring Revenue (MRR)
Ketika menghitung churn rate, monthly recurring revenue (MRR) pun dapat ditentukan dalam periode tertentu. Berikut rumusnya.
MRR = jumlah pelanggan x rata-rata penghasilan per pelanggan (ARPU)
Selain churn rate dan MRR, selanjutnya penghitungan churn revenue dapat juga dilakukan. Revenue churn rate = (Revenue yang hilang dari churn/Total MRR dalam waktu tertentu) x 100 Revenue Churn Rate
Tidak ada satu angka churn rate yang bisa dianggap ideal untuk semua bisnis. Nilai churn sangat bergantung pada industri, model bisnis, harga produk, hingga perilaku pelanggan. Dalam bisnis berbasis subscription seperti SaaS, media streaming, atau aplikasi membership, churn rate menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur kesehatan bisnis dan keberhasilan strategi retention customer. Berapa Churn Rate yang Ideal
Secara umum, semakin rendah churn rate maka semakin baik performa bisnis tersebut. Churn yang rendah menunjukkan bahwa pelanggan merasa puas, terus menggunakan produk, dan melihat nilai jangka panjang dari layanan yang diberikan. Sebaliknya, churn yang tinggi biasanya menandakan adanya masalah pada pengalaman pengguna, kualitas produk, harga, atau proses onboarding.
Pada bisnis SaaS skala kecil hingga menengah, churn rate bulanan di bawah 5% sering dianggap cukup sehat. Untuk perusahaan dengan model enterprise atau kontrak tahunan, angka churn biasanya jauh lebih rendah karena pelanggan memiliki komitmen penggunaan yang lebih panjang. Sementara itu, bisnis e-commerce cenderung memiliki pola churn yang berbeda karena pelanggan tidak selalu melakukan pembelian secara rutin setiap bulan.
Selain melihat angka churn secara keseluruhan, bisnis juga perlu memahami jenis churn yang terjadi. Ada customer churn, yaitu pelanggan yang berhenti menggunakan layanan, dan revenue churn, yaitu penurunan pendapatan dari pelanggan yang berhenti atau mengurangi penggunaan produk. Dalam beberapa kasus, jumlah pelanggan mungkin tetap stabil tetapi revenue churn meningkat karena pelanggan melakukan downgrade paket layanan.
Untuk memahami bagaimana kepuasan pelanggan memengaruhi churn rate dan loyalitas pengguna, baca juga artikel tentang Net Promoter Score.
Customer churn tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, pelanggan sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan engagement sebelum akhirnya berhenti menggunakan produk atau layanan. Memahami penyebab churn menjadi langkah penting agar bisnis dapat memperbaiki pengalaman pelanggan dan meningkatkan retention rate. Penyebab Customer Churn
Salah satu penyebab utama customer churn adalah pengalaman pengguna yang tidak memuaskan. Aplikasi yang lambat, tampilan yang membingungkan, atau proses penggunaan yang rumit dapat membuat pelanggan merasa frustrasi. Jika pengguna merasa produk sulit digunakan atau tidak memberikan manfaat yang jelas, mereka akan lebih mudah berpindah ke kompetitor. Pengalaman Pengguna yang Buruk
Dalam bisnis digital dan SaaS, pengalaman onboarding juga sangat berpengaruh. Banyak pelanggan berhenti menggunakan produk pada minggu pertama karena tidak memahami cara memanfaatkan fitur yang tersedia.
Pelanggan akan mempertimbangkan apakah biaya yang mereka keluarkan sebanding dengan manfaat yang diterima. Jika produk dianggap terlalu mahal atau tidak memberikan hasil yang jelas, risiko churn akan meningkat. Harga Tidak Sesuai dengan Nilai Produk
Hal ini sering terjadi pada layanan berbasis langganan. Ketika pelanggan merasa fitur yang digunakan terlalu sedikit dibanding harga paket yang dibayar, mereka cenderung menghentikan subscription atau mencari alternatif yang lebih murah.
Customer support yang lambat atau tidak responsif dapat menurunkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis. Ketika pengguna mengalami masalah namun tidak mendapatkan bantuan yang memadai, tingkat kepuasan akan menurun dan kemungkinan churn menjadi lebih besar. Kurangnya Customer Support
Dalam banyak studi customer retention, kualitas layanan pelanggan memiliki pengaruh langsung terhadap loyalitas pengguna. Respons cepat, komunikasi yang jelas, dan solusi yang efektif dapat membantu mengurangi risiko customer churn secara signifikan.
Sebagai referensi tambahan mengenai peran layanan pelanggan modern dalam mempertahankan customer, kamu juga bisa membaca artikel mengenai AI Assistant, AI Agent, dan Manusia dalam Customer Service.
Persaingan pasar yang tinggi membuat pelanggan memiliki banyak pilihan. Jika kompetitor menawarkan harga lebih murah, fitur lebih lengkap, atau pengalaman pengguna yang lebih baik, pelanggan dapat dengan mudah berpindah layanan. Kompetitor Menawarkan Solusi yang Lebih Baik
Karena itu, bisnis perlu terus melakukan inovasi dan memahami kebutuhan pelanggan agar tetap relevan di pasar. Analisis churn juga dapat membantu perusahaan mengetahui alasan utama pelanggan memilih kompetitor.
Mengidentifikasi customer churn sejak awal membantu bisnis mengambil tindakan sebelum pelanggan benar-benar berhenti menggunakan layanan. Semakin cepat tanda-tanda churn dikenali, semakin besar peluang perusahaan untuk mempertahankan pelanggan tersebut. Cara Identifikasi Customer Churn
Salah satu indikator paling umum dari churn adalah menurunnya aktivitas pengguna. Pelanggan yang mulai jarang login, tidak lagi menggunakan fitur utama, atau berhenti berinteraksi dengan platform biasanya memiliki kemungkinan churn yang lebih tinggi. Memantau Penurunan Aktivitas Pengguna
Dalam bisnis SaaS, data seperti frekuensi penggunaan aplikasi, durasi sesi, dan jumlah fitur yang digunakan sering dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi churn customer.
Engagement pelanggan dapat menunjukkan seberapa besar ketertarikan mereka terhadap produk. Email yang tidak pernah dibuka, notifikasi yang diabaikan, atau penurunan interaksi dengan layanan bisa menjadi tanda bahwa pelanggan mulai kehilangan minat. Mengukur Tingkat Engagement
Bisnis dapat menggunakan data engagement untuk membuat segmentasi pelanggan berdasarkan tingkat risiko churn sehingga strategi retention menjadi lebih terarah.
Keluhan pelanggan sering menjadi sinyal awal sebelum churn terjadi. Review negatif, hasil survei kepuasan yang rendah, atau tingginya jumlah komplain dapat menunjukkan adanya masalah pada produk maupun layanan. Menganalisis Feedback Pelanggan
Mengumpulkan feedback secara rutin membantu perusahaan memahami pengalaman pelanggan secara lebih mendalam dan menemukan area yang perlu diperbaiki.
Banyak perusahaan menggunakan churn analysis untuk memahami pola pelanggan yang berhenti menggunakan layanan. Selain itu, cohort analysis juga membantu melihat perilaku pelanggan berdasarkan periode akuisisi atau karakteristik tertentu. Menggunakan Churn Analysis dan Cohort Analysis
Melalui analisis ini, bisnis dapat mengetahui kapan churn paling sering terjadi, segmen pelanggan mana yang paling berisiko, serta faktor yang paling memengaruhi retention rate.
Mengurangi churn membutuhkan pendekatan yang konsisten dan berfokus pada pengalaman pelanggan. Strategi retention customer yang efektif tidak hanya bertujuan mempertahankan pengguna, tetapi juga meningkatkan loyalitas dan nilai jangka panjang pelanggan terhadap bisnis. Cara Mengurangi Churn
Onboarding merupakan tahap awal yang sangat menentukan keberhasilan customer retention. Pelanggan yang memahami cara menggunakan produk sejak awal akan lebih mudah merasakan manfaat layanan yang diberikan. Memperbaiki Proses Onboarding
Bisnis dapat menyediakan tutorial interaktif, panduan penggunaan, atau edukasi sederhana agar pengguna lebih cepat mencapai aha moment ketika menggunakan produk.
Layanan pelanggan yang cepat dan solutif dapat membantu mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang. Ketika pengguna menghadapi kendala, respons yang baik akan meningkatkan rasa percaya terhadap brand. Meningkatkan Kualitas Customer Support
Selain menangani masalah pelanggan, customer support juga dapat berfungsi sebagai sumber insight untuk memahami penyebab churn yang paling sering terjadi.
Pelanggan cenderung bertahan lebih lama ketika mereka merasa dipahami. Personalisasi dapat dilakukan melalui rekomendasi produk, email yang relevan, hingga komunikasi berdasarkan perilaku pengguna. Personalisasi Pengalaman Pelanggan
Strategi ini membantu meningkatkan engagement sekaligus membuat pelanggan merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan bisnis.
Perusahaan yang aktif mendengarkan pelanggan biasanya memiliki retention rate yang lebih baik. Feedback pelanggan dapat digunakan untuk meningkatkan fitur, memperbaiki pengalaman pengguna, dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Dengan melakukan evaluasi secara rutin, bisnis dapat mengurangi alasan pelanggan untuk berpindah ke kompetitor. Mengembangkan Produk Berdasarkan Feedback
Churn dan retention adalah dua metrik yang saling berkaitan tetapi memiliki fokus yang berbeda. Churn mengukur jumlah pelanggan yang berhenti menggunakan produk atau layanan dalam periode tertentu, sedangkan retention mengukur kemampuan bisnis mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Perbedaan Churn dan Retention
Churn rate berfokus pada kehilangan pelanggan. Semakin tinggi churn rate, semakin besar jumlah pelanggan yang meninggalkan bisnis. Sebaliknya, retention rate menunjukkan seberapa efektif perusahaan menjaga loyalitas pelanggan dalam jangka panjang. Kedua metrik ini sama-sama penting karena memberikan gambaran tentang stabilitas pertumbuhan bisnis. Fokus Pengukuran
Tingkat churn yang tinggi dapat memperlambat pertumbuhan perusahaan karena bisnis harus terus mencari pelanggan baru untuk menggantikan pelanggan yang hilang. Di sisi lain, retention yang baik membantu meningkatkan profitabilitas karena mempertahankan pelanggan umumnya lebih murah dibanding memperoleh pelanggan baru. Dampak terhadap Pertumbuhan Bisnis
Dalam bisnis SaaS dan subscription, retention customer bahkan sering dianggap lebih penting dibanding pertumbuhan akuisisi jangka pendek.
Retention yang tinggi biasanya berhubungan langsung dengan peningkatan customer lifetime value atau LTV. Semakin lama pelanggan bertahan, semakin besar pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan tersebut. Sebaliknya, churn yang tinggi akan menurunkan nilai pelanggan secara keseluruhan dan membuat biaya akuisisi menjadi kurang efisien. Hubungan dengan Customer Lifetime Value
Strategi untuk mengurangi churn biasanya berfokus pada identifikasi masalah dan pencegahan pelanggan pergi. Sementara itu, strategi retention lebih luas karena mencakup peningkatan pengalaman pelanggan, loyalitas, engagement, hingga pengembangan hubungan jangka panjang dengan pengguna. Strategi yang Digunakan
Dengan memahami perbedaan churn dan retention, bisnis dapat membangun strategi pertumbuhan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Integrasi Teknologi untuk Mengurangi Churn Memahami churn bukan hanya soal menghitung jumlah pelanggan yang pergi, tetapi juga tentang memahami alasan di balik perilaku mereka. Dengan analisis churn yang tepat, bisnis dapat menemukan peluang untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, memperkuat strategi retention, dan menjaga pertumbuhan bisnis tetap stabil dalam jangka panjang.
Mulai dari mengidentifikasi penyebab customer churn, memantau engagement pelanggan, hingga membangun layanan pelanggan yang lebih responsif, setiap langkah memiliki pengaruh besar terhadap loyalitas customer dan kesehatan bisnis secara keseluruhan.
Jika bisnis Anda ingin meningkatkan customer retention, mengurangi churn rate, atau membangun pengalaman pelanggan yang lebih optimal melalui solusi AI dan omnichannel, tim 3Dolphins siap membantu.
Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda bersama 3Dolphins melalui halaman berikut: kontak kami.
Atau eksplorasi insight lainnya seputar customer experience, AI customer service, dan strategi retention di blog 3Dolphins.
